AHLAN WA SAHLAN

anda nyasar digubuk kami? jangan sungkan silahkan masuk dulu.

Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2009

ADAB BERPERANG DALAM ISLAM



Sa'id bin Musayyab menuturkan bahwa ketika Khalifah Abubakar hendak mengirimkan pasukan ke wilayah Syam, beliau menetapkan Yazid bin Abi Sufyan, Amr bin 'Ash, dan Syurahbil bin Hasanah menjadi komandan pasukan. Pada saat pasukan itu diberangkatkan, Khalifah Abubakar mengantarkan mereka hingga daerah Tsaniyatul wada dengan berjalan kaki. Mereka menyaksikan dengan penuh ta'jub (bercampur heran), setelah mengetahui sang Khalifah berjalan kaki. Mereka lalu bertanya, " Wahai Khalifah Rasulullah, apakah kami pantas menaiki (hewan) tunggangan kami, sementara engkau berjalan kaki?"
Khalifah Abubakar menjawab, "Biarkan aku berjalan kaki karena aku mengharapkan pahala dari Allah dari setiap langkahku."
Setelah itu, Khalifah Abubakar menyampaikan pesan-pesan kepada pasukan:
"Aku berwasiat, hendaklah kalian selalu bertaqwa kepada Allah. Berperanglah dijalan Allah dan perangilah orang-orang kafir. Sesungguhnya Allah akan membela agamaNYA. Janganlah kalian berbuat aniaya, janganlah kalian berkhianat, janganlah kalian merasa takut, janganlah kalian berbuat kerusakan dimuka bumi, dan janganlah kalian melanggar perintah pimpinan. Jika kalian bertemu dengan musuh, berikanlah kepada mereka tiga pilihan. Jika mereka menerimanya, janganlah kalian memerangi mereka. Ajaklah mereka ke dalam islam. Jika mereka menerimanya, janganlah kalian memerangi mereka. Kemudian, ajaklah mereka berhijrah ketempat orang-orang islam dan beritahukan kepada mereka, jika mereka (telah) berada ditempat kaum muslim, mereka memiliki hak dan kewaliban (yang sama) seperti yang dimiliki orang islam. Namun, jika mereka memeluk islam dan tidak bersedia turut berhijrah ketempat kaum muslim, katakanlah kepada mereka, status mereka sama saja dengan kaum muslim yang tinggal di perkampungan yang jauh dari orang-orang islam; mereka tidak akan memperoleh bagian ghanimah, kecuali jika mereka turut berperang bersama kaum muslim.
Apabila mereka menolak memeluk islam, tawarkanlah kepada mereka untuk membayar jizyah. Jika mereka bersedia membayarnya, janganlah kalian memerangi mereka. Akan tetapi jika mereka tidak mau membayar jizyah dan tidak mau memeluk islam, maka perangilah mereka.
Janganlah kalian tebang pohon-pohon kurma, janganlah kalian membakar (rumah penduduk), janganlah kalian membinasakan binatang-binatang ternak, dan janganlah kalian menghancurkan tanaman buah-buahan maupun rumah-rumah peribadatan. Jangan pula kalian membunuh anak-anak kecil, orng-orang tua, maupun kaum wanita. Jika kalian menjumpai sebagian orang mencari perlindungan dirumah-rumah peribadatan, janganlah kalian mengganggu mereka. Akan tetapi, jika kalian menjumpai orang-orang jahat yang berteman dengan setan, bunuhlah mereka seluruhnya. (Kanzul umul, jld. II/295)

naik tangga berikutnya

Minggu, 10 Mei 2009

KHILAFAH TIDAK TEGAK DENGAN SEMINAR

Berbagai seminar tentang khilafah dilaksanakan diberbagai tempat, tidak sedikit dialog dilakukan baik dengan tokoh masyarakat maupun masyarakat awam. Training pun digelar dengan mendatangkan pakar politik guna membahas khilafah. Tidak jarang temu tokoh dan workshop ulama diagendakan, ribuan kali masyirah mengenalkan Syariah dilakukan, namun khilafah ar-rasyidah alaa minhaj an-nubuwwah belum kunjung tegak.
Khilafah merupakan institusi politik yang pernah dimiliki kaum muslimin, yang pernah eksist kurang lebih 13 abad lamanya. Model pemerintahan yang pernah dicontohkan Rasulullah saat ini tidak lagi diterapkan oleh umat terbaik guna mengatur urusannya. Kaum muslim saat ini lebih terbius oleh ide-ide nabi palsu Voltaire cs dengan ide kufur demokrasinya. Polesan keindahan demokrasi sebagai antitesis kediktatoran penguasa telah melenakan umat akan mulianya mereka dibawah panji islam.
Sedangkan umat yang tersadarkan akan pembusukan pemahaman kufur, segera melakukan upaya penyadaran terhadap sesama muslim. Segala upaya syar'i guna mengingatkan akan sebuah system mulia yang terlupakan telah diusahakan dan terus diperjuangkan.
Adalah janji Allah dalam ayat berikut:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي
لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون**

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (TQS. an-Nur [24]: 55)

Dan diperjelas oleh Rasul-NYA dalam riwayat Ahmad

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ
أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مَنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا،
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مَنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ»

“Masa kenabian akan hadir di tengah-tengah kalian selama Allah menghendakinya. Allah kemudian mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Muncullah kemudian Khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian yang akan tetap ada selama Allah menghendakinya. Allah lalu mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Muncullah kemudian kekuasan yang lalim selama Allah menghendakinya. Allah kemudian mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Selanjutnya, muncullah kembali Khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian.” Setelah itu, Rasulullah saw. terdiam. (HR. Ahmad)

Tegaknya kembali khilafah merupakan janji Allah yang artinya kembalinya kaum muslimin berkuasa kembali dimuka bumi hanyalah menunggu datangya Nasrullah (pertolongan Allah). Dan pertolongan Allah itu merupakan hak prerogative Allah.
Kemudian muncul pertanyaan, lalu dimana peranan pentingnya diadakannya seminar-seminar, dialog, diskusi, workshop dalam kaitannya menyambut datangya janji Allah?
Dalam sebuah perbincangan, Ust. Ismail Yusanto (jubir HTI) membenarkan bahwa Khilafah adalah wa'dullah dan yang wajib dilakukan umat islam adalah amal shalih. Hanya saja Ust. Ismail menanyakan amal shalih apa saja yang harus dilakukan, yang bisa mengantarkan pada terwujudnya janji Allah itu? Karena amal shalih itu sangat banyak. Shalat, menutup aurat, menikah, jual beli, dan perbuatan lainnya yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Allah adalah amal shalih. Namun menurut beliau, semua itu bukan amal shalih yang dapat mengantarkan kepada tegaknya khilafah.
Menurut beliau ada amal shalih lain yang dapat mengantarkan kepada wa'dullah itu, yakni dakwah siyasi. Dakwah siyasi adalah dakwah politis, karena khilafah adalah institusi politik maka upaya penegakannya pun harus bersifat politik.(Media Umat/edisi 7/april 2009)
Dalam hal ini dapat dipahami dalam dua aspek, pertama adalah janji Allah kepada orang mukmin, yang janji itu pasti diberikan Allah kepada mereka. Kedua adalah apa yang harus mereka lakukan agar janji tersebut diberikan kepada mereka.
Dua aspek tersebut harus dibedakan agar cara pandang kita terhadap seminar, dialog menjelaskan tentang khilafah yang dilakukan pengemban dakwah bukanlah hal yang sia-sia.
Aspek yang pertama merupakan masalah aqidah dan keyakinan. Aspek yang kedua adalah masalah hukum syara, dan perbuatan. Aspek pertama adalah hak prerogative Allah dan dalam hal ini manusia tidak dimintai pertanggungjawaban. Aspek kedua adalah masalah pilihan manusia yang bisa mereka lakukan atau tidak, karenanya mereka akan dimintai pertanggung jawaban.
Dalam konteks yang pertama, Allah lah yang maha tahu, kapan, dimana dan kepada siapa janji-NYA akan diberikan.Allah telah memberitahukan kriteria orang-orang yang layak menerimanya antara lain, beriman, beramal shalih, ahli ibadah dan tidak melakukan syirik sekecil apapun.
Dalam konteks yang kedua, yaitu hukum syariah dan perbuatan, perbuatan seperti apa yang bisa mengantarkan untuk mendapatkan pertolonganNya. Banyak sekali perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan . Namun dalam konteks kekuasaan (khilafah) perintah Allah yang berkaitan dengan itu adalah, perintah atau hukum syariah yang berkaitan politik, aktifitas politik dan partai politik. Karena khilafah adalah urusan politik maka mustahil bagi umat bisa meraih kekuasaan yang nota bene urusan politik dengan aktifitas non politik. Karenanya, amal shalih yang bisa mengantarkan umat pada tujuan tersebut haruslah amal shalih yang bersifat siyasah. Bukan amal shalih secara umum. Demikian juga kelompok yang bisa mengantarkan kesana adalah kelompok politik bukan yang penting kelompok.
Politik, aktifitas politik dan partai politiknya pun harus berdasarkan islam dan terikat dengan hukum islam bukannya partai politik yang hanya berlabelkan islam namun aktifitas politiknya adalah aktifitas politik sekuler.
Partai politik dan para politisinya haruslah bersentuhan langsung dengan umat bisa dengan aktifitas mengadopsi kepentingan mereka ,menjelaskan ide-ide kufur kepada mereka, membongkar rencana jahat penjajah atas mereka. Menjelaskan hukum-hukum syara kepada mereka juga hal-hal lain yang bersifat siyasiyah. Hal ini bisa dilakukan melalui seminar, dialog, diskusi dan hal serupa yang tidak bertentangan dengan syara'. Tujuan yang dicapai dalam pendidikan politik yang dilakukan adalah pembentukan opini akan pentingnya syariah islam yang mengatur urusan mereka yang kini mereka lupakan dan juga kesadaran politik umat agar mereka tidak disesatkan oleh pemahaman-pemahaman yang merugikan mereka.
Maka disini jelaslah bahwa diadakannya seminar tentang khilafah kajian politik tentang khilafah hanyalah sekedar uslub yang memungkinkan umat kembali meraih kemuliaanya. Masalah kapan berdirinya khilafah hanya Allah lah yang Maha Tahu. Yang jelas saat ini umat yang bangun dari tidur panjangya telah kembali memperjuangkannya. Mereka yang tersadarkan, telah menebar benih kebaikan dan Insya Allah akan segera memetik buahnya. Allah a'lam bi showab.[]

naik tangga berikutnya

Rabu, 22 April 2009

MEREKA YANG MENGHARAPKAN BERKAH DARI DEMOKRASI


Allah subhanahu wa ta'ala berfirman



"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (QS.Ali Imran :85)

Beberapa waktu lalu negri ini mengadakan hajatan besar. Sebuah prosesi ritual lima tahunan yakni pesta demokrasi pemilihan umum untuk legislative. Banyak orang berharap perubahan lebih baik terhadap pemilu bagi negri ini untuk Indonesia lebih baik. Harapan bukan hanya datang dari kalangan menengah kebawah tetapi juga dari para elit dan pengusaha dengan harapan pemilu kali ini membawa perbaikan ekonomi bagi bangsa tercinta ini.
Tidak ketinggalan mereka yang memiliki uang berlomba-lomba mengikuti perlombaan untuk duduk sebagai wakil rakyat. Berbagai slogan mereka usung, janji-janji perubahan mereka suarakan, kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan seakan bisa mereka selesaikan ketika mereka duduk di kursi terhormat.
Rakyatpun terbius oleh alunan syair-syair perubahan yang didendangkan para caleg partai politik. Dengan sedikit goyangan angin surga, masyarakat bisa melupakan segala masalah yang menghimpit walau sekedar sesaat.
Ya…! Inilah demokrasi sebuah system politik yang diterapkan di negri dengan kaum muslim terbesar di dunia. Dengan propaganda bahwa demokrasi adalah pemerintahan rakyat maka masyarakat dengan mudah menerima demokrasi tanpa telaah lebih mendalam.
Satu pertanyaan dari judul yang kami tulis diatas adalah apakah dengan demokrasi keberkahan dari langit akan turun kepada umat terbaik yang dengan rela mengemban demokrasi meski dengan pengorbanan biaya yang tidak kecil?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sedikit telaah tentang demokrasi. Istilah demokrasi berasal dari kata demos artinya rakyat dan cratein artinya permerintah. Abraham Lincoln (1806-1865) mendefinisikan demokrasi sebagai "government of the people, by the people, for the people". Kemunculan demokrasi terinspirasi fakta bahwa dikota Athena, Yunani pada sekitar tahun 450 SM yang mempraktekan pelibatan seluruh warga kota dalam proses pengambilan keputusan. Konsep Yunani kuno tersebut digali kembali di eropa pada abad pertengahan ketika kekuasaan gereja dan kaisar melakukan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan mengatasnamakan agama(gereja). Oleh karena itu muncullah gerakan reformasi gereja yang menentang dominasi gereja, dan menghendaki disingkirkannya agama dari kehidupan, dan menuntut kebebasan. Puncaknya adalah Revolusi Perancis tahun 1789 yang berujung pada sekulerisasi, yakni upaya memisahkan gereja dari masyarakat, negara, dan politik.
Pada masa itu, orang mencari suatu model agar kekuasaan tidak dimonopoli oleh satu orang, keluarga kerajaan, kaum bangsawan atau penguasa gereja. Ironinya, satu-satunya bahan yang tersedia bagi para pemikir saat itu adalah dari sejarah Yunani kuno. Dari sejarah itu mereka belajar bahwa di kota Athena tempo dulu diterapkan satu sistem, yaitu seluruh warga kota turut serta dalam proses pengambilan keputusan. Sistem tersebut dianggap system terbaik oleh para pemikir abad pertengahan waktu itu. Mereka yang tertekan oleh kediktatoran para raja dan kaum bangsawan serta penguasa gereja kemudian mengadopsi sistem Athena dan mempopulerkannya dengan nama "DEMOKRASI".
Dilihat dari aspek historis, demokrasi jelas dilahirkan oleh pemikir yang menolak campur tangan agama untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk didalamnya negara. Selain itu , demokrasi juga murni berasal dari rekacipta dan hawa nafsu manusia, bukan berasal dari agama samawi manapun, apalagi islam.
Demokrasi adalah bentuk sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Dalam demokrasi dikenal slogan 'vox populli vox dei' (suara rakyat adalah suara tuhan). Karena itulah, inti demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Artinya dalam sistem demokrasi, rakyatlah yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan dan membuat hukum. Atau dalam bahasa lain adalah system pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Dengan demikian sebagai konsekuensi dari ide kedaulatan rakyat maka rakyatlah yang berhak membuat, menetapkan, membatalkan hukum melalui wakil-wakil mereka yang duduk di parlemen. Produk undang-undang yang mereka hasilkan apakah nanti sesuai atau tidak dengan islam adalah urusan belakang. Yang jelas undang-undang didasarkan pada asas manfaat. Kemanfaatan bagi pembuat undang-undang juga bagi pemilik modal yang mendukung dana kampanye tentunya.
Kembali pada ayat diatas, konotasi ghayr al-islam din[an] (selain islam sebagai agama) bukan hanya dalam konteks mencari selain islam sebagai agama ritual, tetapi juga berlaku dalam konteks mencari selain islam sebagai agama social, politik, ekonomi, dan lain-lain. Sebab kata din (agama) disini mencakup dua konotasi ajaran tersebut.
Maka sesuatu yang bukan berasal dari islam hendaknya kaum muslimin tidak mengamalkanya termasuk demokrasi. Karena pernyataan Allah dalam Qur'an surat Ali Imran: 85 diatas sudah sangat jelas. Sesuatu yang bukan dari islam maka akan tertolak. Oleh karena itu mengharapkan keberkahan, mengharapkan Indonesia menjadi baldattun thayyibattun wa robbun ghafur dalam bingkai demokrasi ibarat menunggu unta masuk ke lubang jarum. Allahu a'lam bi shawab

naik tangga berikutnya

Jumat, 27 Maret 2009

Beginilah Sang Pembantai Andijan Beraksi

بسم الله الرحمن الرحيم
Beginilah Sang Pembantai Andijan Beraksi

Berikut ini adalah informasi yang kami terima dari Asia Tengah berkenaan dengan kejahatan penguasa tiran (kejam) Tashkent di Andijan.
Setelah melihat berbagai peristiwa yang terjadi di negara-negara bekas Uni Soviet, khususnya yang terjadi di negara tetangga, Kyrgyzstan, Karimov tahu bahwa gelombang ‘perubahan’ akan segera menimpanya. Karena itu, ia mulai khawatir dengan masa depannya. Rusia menyarankan agar ia menyiapkan strategi untuk menanggulangi hal itu. Karena itu, Karimov lalu mengerahkan jajaran intelnya untuk memprovokasi (memanas-manasi) masyarakat agar menentang dirinya, sementara mereka berpura-pura berada di pihak rakyat dalam rangka mencari tahu siapa sesungguhnya pemimpin oposisi itu. Karimov melakukan itu agar ia dapat menumpas mereka sebelum mereka dapat mengorganisasi (menggalang) kekuatan untuk melawannya. Kemudian ia beralih ke penjara—yang dipenuhi oleh ribuan Muslim, terutama anggota Hizbut Tahrir, yang digambarkan oleh Rusia sebagai kelompok teroris, semata-mata karena menyerukan Khilafah—dan menyerang para tahanan seraya menutup-nutupinya dengan dalih para tahanan itu berusaha kabur, memberontak, lalu terbunuh dalam usahanya itu.
Rencana ini sudah disepakati oleh Rusia dan Karimov sebulan sebelum peristiwa Andijan. (Kyrgyzstan juga ditekan untuk memfasilitasi pelaksanaan rencana tersebut). Ketika itu, Karimov mengemukakan tentang perlunya tentara Rusia meningkatkan pembunuhan atas rakyatnya karena khawatir tentara Uzbekistan tidak akan sanggup melaksanakan pembunuhan itu. Rusia kemudian berjanji (kepada Karimov) untuk mengirim lima ribu pasukan khusus yang telah dilatih untuk menumpahkan darah rakyat Uzbekistan. Mereka bersepakat menjalankan rencana ini.
Pada awal Mei 2005, sang diktator memulai operasinya dengan mengirimkan anggota pasukan keamanannya untuk berbaur dengan masyarakat, yang berpura-pura bahwa mereka adalah bagian dari rakyat, dan mendorong rakyat untuk bergerak menentang Karimov dengan menuntut perbaikan standar hidup dalam hal pelayanan air, listrik, dan gas, serta menuntut agar anak-anak mereka dibebaskan dari penjara.
Hizbut Tahrir mengetahui rencana tersebut. Indikasi (tanda-tanda)-nya jelas terlihat, karena sebagian di antara intel yang menghasut rakyat itu sudah dikenal sebagai anggota pasukan keamanan Uzbekistan, tetapi berpura-pura keluar dari instansinya dan kini menentang Karimov. Manuver mereka jelas; mereka mengontak keluarga para tahanan, termasuk keluarga anggota Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir berupaya keras mengontak masyarakat untuk memberi tahu mereka bahwa orang-orang itu adalah anggota pasukan keamanan sang diktator. Akan tetapi, orang-orang suruhan Karimov itu sungguh lihai sehingga mereka mampu mempengaruhi sejumlah orang, bahkan sebagian organisasi hak asasi manusia. Hal ini terutama karena rakyat memang memendam kebencian yang sangat dalam terhadap sang tiran yang telah memenjarakan sanak-keluarga mereka, selain karena kondisi kehidupan yang memprihatinkan akibat kurangnya pelayanan negara.
Kemudian, pada 12 Mei, rakyat berkumpul di pusat kota Andijan. Ini berlangsung hingga larut malam dan juga berlangsung pada 13 Mei hingga mencapai 50.000 orang. Pada malam tanggal 12-13 Mei 2005 itu, sebuah kelompok bersenjata, yang merupakan pengikut Karimov, bergerak menuju Penjara Andijan. Mereka melepaskan sejumlah tahanan—sebagian besar di antaranya terbunuh dan hanya sedikit yang selamat. Menurut kesaksian salah seorang tahanan yang selamat, tahanan yang menjadi syabab (aktivis) Hizbut Tahrir termasuk di antara orang-orang pertama yang digiring oleh kelompok bersenjata itu, dan sejak saat itu para tahanan tersebut tidak pernah terlihat lagi.
Pagi hari tanggal 13 Mei, sang tiran datang ke Andijan. Bandara sudah disiapkan sejak 10 Mei 2005 untuk menyambut kedatangannya. Dengan kata lain, semuanya sudah disiapkan sejak sebelum terjadinya peristiwa itu. Sang tiran meminta kepada para prajurit Rusia, yang datang ke Andijan pada 11 Mei 2005, agar membunuhi semua orang yang ada di alun-alun Andijan; tidak peduli apakah mereka itu orang tua, wanita, anak-anak atau pemuda—semuanya tanpa terkecuali.
Ketika sang tiran kembali ke Tashkent pada sore harinya, ia memberikan perintah untuk menembaki kerumunan orang yang ada di alun-alun. Penembakan itu berlangsung dari Jumat sore hingga Sabtu, 14 Mei 2005. Menurut sumber-sumber yang kami percaya, jumlah orang yang terbunuh dalam pembantaian di Andijan itu diperkirakan mencapai 7.000 orang. Saat itu orang-orang Karimov langsung mengumpulkan dan menyembunyikan 400-500 mayat. Ini berlangsung selama 4 hari, sementara negara ditutup dari akses media/pers dan jalan; tidak ada akses masuk dan keluar; tertutup oleh tirai besi seperti yang dilakukan dulu pada masa Uni Soviet.
Setelah itu, sang tiran mempersilakan sejumlah orang dari kalangan pers untuk masuk melalui rute-rute yang dijaga; mereka tidak diperbolehkan berbicara kepada orang-orang. Kemudian mereka pergi sebagaimana mereka masuk melalui rute yang telah ditentukan tersebut.
Pada Sabtu, 14 Mei, pukul 6 sore waktu Uzbek, Uzbek TV menyiarkan konferensi pers dari sang penjagal, Karimov. Karimov menuduh Hizbut Tahrir berada di belakang peristiwa itu. Karimov menuduh sebuah kelompok Islam kecil (Akramiyyah) menyerang penjara, membuka pintu penjara, dan membunuhi para tahanan yang tidak mau memberontak bersama mereka. Padahal sebenarnya, kelompok Karimov sendirilah yang telah membunuhi para tahanan di dalam dan di luar penjara, dan bukan Akramiyyah. Berikut adalah indikasi (bukti-bukti) bahwa Karimov adalah dalang di balik pembunuhan para tahanan itu:
1. Karimov mengatakan dalam konferensi pers, pada Sabtu malam tanggal 14 Mei, bahwa kelompok bersenjata yang menyerang penjara telah membunuh para tahanan yang tidak mau bergabung dengan barisan pemberontak. Ini untuk memberikan penjelasan mengapa para tahanan itu dibunuh setelah fakta pembunuhan itu terungkap.
2. Sebagian orang di Tashkent pergi ke Departemen Penjara menanyakan sanak-keluarga mereka yang ada di Penjara Andijan. Mereka lantas diminta untuk kembali keesokan harinya. Ketika mereka datang keesokan harinya, mereka diminta untuk datang empat hari lagi. Setelah itu, tuntutan mereka tetap ditolak.
3. Pejabat penjara pergi ke keluarga para tahanan di Andijan dan berkata, “Anak Anda kabur dari penjara dan kami berusaha mencari mereka. Jadi, jika mereka pulang ke rumah, maka kirim mereka kepada kami.” Ini untuk membuat dalih bahwa ketika pembunuhan atas mereka terungkap, mereka akan mengatakan bahwa para tahanan itu kabur dari penjara dan terbunuh oleh kelompok bersenjata.
4. Bahasa yang digunakan oleh anggota kelompok bersenjata itu bukanlah bahasa Uzbek. Ini menegaskan bahwa mereka ada pasukan Rusia pesanan Karimov yang datang untuk mengeksekusi (melaksanakan) rencana pembantaian itu.

Baru-baru ini ada berita bahwa para tahanan Muslim, terutama para syabab Hizbut Tahrir, juga dibunuh di penjara lain di Uzbekistan, dan bahwa jumlah korban telah mencapai ribuan. Ada berita yang beredar di kalangan orang-orang bahwa jumlah yang terbunuh dalam pembantaian di Uzbekistan itu mencapai lebih dari 10.000. Laporan lain menyatakan korban mencapai 20.000.

Wahai Kaum Muslim! Pembantaian ini merupakan bukti betapa kalangan Barat membenci Islam dan kaum Muslim. Memang, Amerika dan Rusia bersaing memperebutkan pengaruh di Asia Tengah (khususnya di Uzbekistan) dan berupaya untuk mengajak setiap negara di sana agar berpihak kepadanya dan mereka berbeda dalam hal pembagian kekayaan dan pengaruh. Akan tetapi, dalam hal pembunuhan atas kaum Muslim, terutama Hizbut Tahrir, mereka mengesampingkan segala perbedaan itu. Ini terlihat jelas dari reaksi atas pembantaian itu. Reaksi yang ada terkesan malu-malu, seolah-olah yang terjadi hanyalah percekcokkan dalam sebuah pertandingan sepakbola.
Mereka mengatakan bahwa mereka telah menekan sang tiran dengan mengirim reporter ke Andijan, meski reporter media ini tidak masuk kecuali melalui rute yang telah ditentukan dan mereka dilarang berbicara kepada orang-orang. Para reporter itu pergi menempuh rute yang sama seperti ketika mereka datang—rute yang ditentukan oleh sang tiran. Padahal jika pembantaian itu terjadi di desa terkecil di bagian bumi manapun yang penduduknya bukan Muslim, maka negara-negara lain, terutama Amerika, akan segera menghujatnya dengan dalih demokrasi dan HAM.
Kita semua menyadari kedudukan kaum kafir dan agen-agennya yang membenci Islam dan kaum Muslim. Mereka bersatu melawan kaum Muslim, terutama yang berusaha menegakkan Khilafah, dengan maksud untuk mencegah kembalinya Khilafah. Ini dilakukan karena kembalinya Khilafah akan membuat mereka tidak bisa tidur, dan akan menghancurkan mereka beserta antek-anteknya. Akan tetapi, mereka harus tahu, bahwa sikap perlawanan mereka terhadap kita justru akan mendorong kita untuk semakin gigih menegakkan Khilafah dan semakin giat memperjuangkannya. Kita justru melihat bahwa kemenangan sudah dekat dengan seizin Allah SWT. Lalu kolonialis kafir yang membenci Islam akan segera mengetahui kekalahan mereka.
Wahai kaum Muslim! Darah kaum Muslim, yang ditumpahkan oleh penjagal Andijan, tidak akan sia-sia. Hizbut Tahrir tidak akan melupakannya. Semua itu akan senantiasa terpahat dalam memori (ingatan). Janji Allah SWT untuk memberikan kekuasaan di dunia kepada orang-orang shalih dan kabar baik dari Rasulullah saw. tentang akan kembalinya Khilafah Rasyidah akan segera terealisasi, dengan izin Allah SWT. Ketika itu terjadi, maka akan ada keadilan dan ganjaran setimpal bagi sang penjagal dari Andijan yang membuat ngeri orang-orang yang berada di belakangnya.
Sang Tiran dari Tashkent akan menggelepar-gelepar seperti hewan yang disembelih. Allah SWT memberikan kelonggaran kepada penindas, tetapi ketika Dia sudah menghukumnya, Dia tidak akan memberi ampun. Bahkan sang penindas durjana ini akan dihukum dengan seizin Allah SWT:
» إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ «
Sungguh, Allah akan memberikan kelonggaran kepada penindas, sampai ketika Dia menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya. (HR al-Bukhari).

Wahai kaum Muslim yang telah kehilangan sanak-keluarga, bersabarlah dan tetaplah tabah. Ketahuilah bahwa Allah SWT akan menempatkan anak-anak saudara di Taman Surga bersama para nabi, orang-orang yang beramal shalih, para syuhada, dan orang-orang ikhlas; betapa indahnya kehidupan mereka. Darah anak-anak saudara yang tumpah itu akan memberikan kehormatan dan kemenangan kepada saudara sekalian. Kegelapan akan digantikan oleh cahaya fajar dan penderitaan akan diikuti oleh kesenangan. Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (TQS. Alam Nasyrah [94]: 5-6).

Jadi, nantikanlah kabar baik berupa kemenangan yang sudah kian dekat dengan izin Allah SWT.
وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
Allah Mahakuasa atas urusan-Nya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (TQS. Yusuf [12]: 21).

naik tangga berikutnya

Jumat, 13 Maret 2009

tadhlil siyasy

Makna
Tadhlîl (penyesatan) berasal dari dhallala yang akar katanya dhalla. Di dalam Tâj al-‘Urûs dikatakan dhalla asy-syay’a jika sesuatu itu tersembunyi dan ghaib (tidak tampak). Tadhlîl artinya menjadikannya dhalâl, yaitu menjadikannya tersembunyi dan tidak tampak. Prof. Dr. Ruwas Qal’a Ji di dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ (1/133) mengatakan, tadhlîl berasal dari dhallala, artinya sengaja menyembunyikan sebagian perkara agar orang yang mencari atau membahasnya tidak tertunjuki kepada apa yang ia inginkan. Sedangkan siyâsiy adalah sifat dari aktifitas penyesatan itu. Berasal dari kata siyasah (politik) yang maknanya adalah pengaturan urusan masyarakat dan pemeliharaan kemaslahatan dan kepentingan mereka.


Ringkasnya, tadhlîl siyâsiy maknanya adalah penyesatan politik, yaitu menyembunyikan sesuatu atau menjadikan sesuatu tidak tampak, dalam konteks pengaturan urusan masyarakat dan pemeliharaan kemaslahatan serta kepentingan mereka. Penyesatan politis itu adalah semua aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan urusan masyarakat sehingga hakikat suatu masalah bisa disembunyikan dan yang tampak adalah sesuatu yang lain. Penyesatan politis itu dalam perpolitikan sekarang ini menjadi fenomena keseharian, baik ditingkat internasional atau nasional.

Contoh Penyesatan Politik
Di tingkat internasional contohnya, invasi AS ke Irak dikatakan sebagai pembebasan. Padahal hakikatnya adalah agresi dan penjajahan. Penggunaan kata terorisme juga tidak lebih dari sebuah penyesatan politis. Terorisme digunakan untuk memberangus umat Islam yang melawan AS. Buktinya, teroris yang dimaksudkan sebenarnya oleh Bush adalah siapapun yang melawan AS. “Either with us or with terrorists,” ujar Bush.
Penyesatan itu kadang kala dilakukan dengan menyebut sesuatu dengan sebutan lain. Contohnya, utang disebut bantuan. Dengan perubahan sebutan itu sebenarnya telah menyembunyikan hakikat utang dan menanamkan di benak orang persepsi utang itu sebagai bantuan. Dengan sebutan itu, utang luar negeri akhirnya dianggap sebagai kebaikan hati asing dan seakan tidak ada kewajiban mengembalikan apalagi disertai bunga. Dengan sebutan itu hakikat utang sebagai alat penjajahan untuk memerangkap dan menjerat negara pengutang jadi tidak tampak.
Kadang kala juga penyesatan politis itu dilakukan dengan menggambarkan suatu masalah sebagai masalah lain yang jauh dari hakikat masalah. Contohnya, masalah ahmadiyah, lebih ditonjolkan masalah kekerasan dan hak hidup. Itu untuk menyesatkan supaya terbentuk persepsi bahwa siapa saja yang mempermasalahkan ahmadiyah adalah orang yang membenarkan kekerasan kepada orang ahmadiyah; atau berarti ingin menghabisi orang ahmadiyah. Lebih dari itu, penyesatan politik dilakukan oleh gabungan kelompok sosialis, kristen dan kaum liberal dalam iklan mereka di berbagai media nasional (26/5/2008). Mereka tegas-tegas menyatakan bahwa pihak yang tidak setuju dengan Ahmadiyah sebagai perusak Indonesia dan memporakporandakannya. Padahal masalah ahmadiyah hakikatnya adalah masalah kesesatan dari akidah Islam dan pengacak-acakan ajaran Islam. Mereka telah menodai al-Quran dan menyimpang dari Islam. Mereka melanggar hak asasi umat Islam dalam memegang teguh dasar-dasar akidahnya. Persoalan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat sebenarnya merupakan dampak dari lambannya sikap pemerintah.
Dalam kasus mutakhir yaitu kenaikan harga Premium, Solar dan Minyak Tanah, jika kita amati banyak terjadi penyesatan politis. Kenaikan harga itu tidak mau disebut kenaikan harga, tetapi disebut pengurangan subsidi BBM. Padahal hakikatnya adalah kenaikan harga BBM.
Juga dikatakan kenaikan itu untuk menyelamatkan APBN agar perekonomian nasional selamat. Padahal dalam APBN 2008 dinyatakan, APBN itu hanya 20 % dari PDB atau dengan kata lain hanya 20 % dari kue perekonomian nasional. Sementara dengan kenaikan harga BBM yang terkena dampak negatifnya adalah perekonomian nasional seluruhnya. Artinya untuk menyelamatkan yang 20 % itu, justru 80 % dari perekonomian nasional terkena dampak negatifnya.
Dikatakan, jika kalau subsidi BBM mendorong pemborosan. Faktanya, konsumsi BBM Indonesia berada di urutan 116 dari negara-negara di dunia. Singapura yang BBM-nya tidak disubsisi, justru berada di ranking 1 konsumsi BBM dunia.
Diantara alasan kenaikan harga BBM itu karena subsidi BBM hanya dinikmati oleh orang kaya yang diidentikkan dengan pemilik mobil pribadi. Padahal jumlah pemilik mobil mewah hanya < 5 % (< 10 juta). Faktanya, BBM jelas dipakai oleh semua orang termasuk seluruh orang miskin. Bukankah BBM itu juga dipakai oleh sopir Bus, Metromini, mikrolet, angkot, sopir truk pengangkut barang, nelayan, para penumpang angkutan umum (bus, metromini, mikrolet, angkot, dsb) yang mereak itu semuanya bukan pemilik mobil pribadi atau bukan orang kaya. Dengan kenaikan harga BBM, harga-harga barang naik, akibatnya dirasakan oleh semua orang termasuk orang yang tidak pernah naik kendaraan (kalau ada) karena barang-barang itu diangkut dan didistribusikan dengan kendaraan pengangkut yang menggunakan BBM.
Di sisi lain, subsidi yang jelas hanya dinikmati orang kaya tetap dipertahankan. Impor gandum, PPn-nya dibayar pemerintah, jelas subsidi itu lebih dinikmati pengusaha dan mereka adalah orang kaya (malah mungkin super kaya). Lebih dari 600 triliun uang dikucurkan untuk rekapitulasi Bank. Yang paling banyak menikmati adalah para pemilik Bank itu dan mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Malah mereka yang ngemplang dana rekap itu begitu mudah dimaafkan dan dianggap lunas. Jika kepada mereka “pemerintah” begitu dermawan, kenapa untuk subsidi BBM yang dinikmati masyarakat kebanyakan pemerintah terlihat begitu berat dan pelit?
Begitulah, umat Islam perlu memiliki kesadaran politik. Salah satunya, memahami adanya penyesatan politik (tadhlil siyasiy). Tanpa memahami tadhlil siyasiy umat akan mudah dijadikan bulan-bulanan. Sebaliknya, umat yang mengetahui penyesatan politik akan mampu melakukan kebangkitan dan tidak mudah dininabobokan.

naik tangga berikutnya

About Me

ignorance makes me want to learn from the smallest

Hadist Pilihan

Rasulullah saw. juga bersabda: «مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» Siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah pasti akan membukakan baginya suatu jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan melebarkan sayap keridhaan bagi seorang pencari ilmu. Sesungguhnya seluruh makhluk yang ada di langit maupun yang ada di bumi hingga bahkan ikan-ikan di dasar lautan akan memintakan ampunan kepada Allah bagi seorang yang berilmu. Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dengan seorang ahli ibadah adalah laksana keutamaan cahaya bulan purnama pada malam hari atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya pula, orang-orang yang berilmu (para ulama) adalah pewaris para nabi, sementara para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambil ilmu, ia berarti telah mengambil bagian yang sangat besar. (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi)

  ©Design by extron_ton.